Rabu, 26 Oktober 2011

Cerpen


Dalam diamku tersimpan harapanku
Oleh Gita Sriulan Dilarasati

                Suatu ketika dimana saatnya pengumuman hasil UN SMP se-Indonesia. Dengan seragam putih biru aku dan teman-temanku berjalan menuju gerbang sekolah. Setelah beberapa saat kemudian “Tett…tett…tettt” bel pun berbunyi dan terdengar suara seorang guru yang meminta semua siswa kelas IX untuk segera berkumpul di lapangan upacara. Aku dan teman-temanku pun bergegas pergi menuju ke lapangan. Setelah sudah di kumpulkan semua siswa diminta memasuki ruang kelasnya masing-masing. Setiba-nya aku di depan kelas dan mulai menapakan kaki ke dalam ruang kelas, aku terus berjalan menuju ke kursi tempat dimana aku duduk. Sesaat kemudian tibalah seorang wanita yang menggunakan kerudung coklat dengan busana yang selaras dan menyampaikan tujuan dari kedatangan nya ke ruang kelas ku. ternyata dia hanya ingin menanyakan siapa yang menjadi wali murid dari masing-masing siswa untuk mengambil surat laporan hasil kelulusan UN.
“Ren, siapa yang menjadi wali mu nanti” Tanya Tessa
“Ibu yang menjadi wali ku nanti”
“Memangnya kemana ayah mu? Mengapa bukan dia yang menjadi wali mu ?” Tanya temanku lagi
“Ayah? Ehmm.. ayah ku sibuk, jadi dia tidak bisa menjadi wali ku” jawab ku sedikit cemas.
Akhirnya tiba saat nama ku di panggil dan ibu mulai membuka amplop yang berisikan pengumuman kelulusan. Saat yang menegangkan pun tiba. Semua teman-teman dan aku panik menunggu wali masing-masing membuka amplop dan ternyata aku lulus. Dengan sangat bahagia aku meloncat sambil berteriak, “Aku lulus!”
****
            Pe ndaftaran penerimaan siswa baru di sebuah SMA yang aku inginkan telah dimulai. Aku mendaftar bersama teman-temanku dengan di dampingi wali masing-masing. Teman-temanku didampingi oleh ayah dan ibu mereka dan aku hanya di damping oleh ibu.
“Ren, kemana ayahmu?” kembali Tessa bertanya.
Langsung saja aku menatap muka ibu dan dia tersenyum sambil berkata
“ceritakan saja nak!”
“Baiklah, sebenarnya aku hanya hidup dengan Ibu dan kakakku. Ayahku pergi meninggalkan ibu dan kakak saat kakak masih kanak-kanak. Ayah pergi dengan wanita lain, dia tinggal dengan isteri barunya dengan keluarga yang sangat bahagia. Tapi ternyata isteri barunya juga di sakiti oleh ayah. Ayah menikah lagi dengan wanita-wanita yang lain. Suatu saat ketika ayah bangkrut, ayah kembali kepada ibu dan meminta ibu untuk menerimanya kembali, dan ibu menerimanya. Setelah beberapa bulan kemudian, ibu mengandungku, dengan kasih sayang dan perhatian dari ayah ibu merasa bahwa ayah telah berubah. Saat aku dilahirkan, saat aku masih balita ayah kembali meninggalkan aku, kakak, dan ibu.  Aku kasihan sekali dengan ibu yang mulai percaya lagi kepada ayah, tapi ayah menghianati kepercayaan dari ibu. Hingga saat ini aku tidak tau dimana keberadaan ayah dan berapa banyakkah isteri dan anaknya. Oleh karena itulah ayah tak pernah menjadi wali ku.”
            Hari demi hari pun berlalu namun ayah tak kunjung datang. Aku dan ibu sangat merindukan ayah. Aku sangat ingin merasakan dekapan hangat, nasehat, dan perhatian dari seorang ayah, ayah kandung ku. suatu saat ketika aku libur sekolah aku mendengar kabar bahwa ayahku menikah dengan wanita asal Bandung namun sekarang ayah dan keluarganya tinggal di Palembang dan aku meminta izin kepada ibu untuk menemui ayah di rumahnya karena aku sangat ingin bertemu dengan ayah. Namun ibu menolak, ibu tidak mengizinkanku untuk menemui ayah. Aku terus memohon dengan ibu agar ibu memberi izinnya dan mau mengantar ku ke rumah ayah dan akhirnya ibu mengizinkanku. Tibalah aku dan ibu pada suatu rumah yang sangat megah, indah, dan mewah. Perlahan aku melangkahkan kaki menuju ke gerbang rumah itu dan bergegas masuk. Setibanya aku di depan pintu rumah ayah, aku langsung memanggilnya.
“Ayah !” ucapku perlahan, namun tak ada jawaban dari penghuni rumah.
            Aku terus mencoba memanggil ayah
“Ayah! Ini aku rena anak mu yah! Aku sangat merindukanmu! Keluar yah, aku mohon!” tetap tak ada respon.
            Berkali-kali ku coba untuk memanggilnya dan mencoba melirik kedalam rumah melalui sela-sela jendela yang ditutupi tabir yang cantik. Hanya terlihat orang-orang yang sedang asik di depan televise, namun aku tak melihat ayah. Akhirnya aku pulang dengan berderaian air mata yang membasahi pipi ku dan bergegas menuju ibu yang sudah menungguku di depan gerbang.
“Ibu…! Ayah tidak menjawab seruan ku.”
“memang begitu ayah mu nak, namun jika kamu tetap ingin ayah mu kembali, ibu mau kok  nak meminta ayah mu untuk kembali agar bisa berkumpul bersama kita dirumah.”
“Tidak bu , aku tidak mau! tidak apa kok bu kalau memang aku tidak memiliki ayah yang penting aku masih punya ibu yang sayang dengan aku.”
            Sesungguhnya aku masih memiliki keinginan untuk bertemu dengan ayah, tapi aku juga kasihan dengan ibu. Akhirnya aku menerima kehidupanku tanpa seorang ayah.
****

*)Penulis adalah siswa kelas X.4 SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III

0 komentar:

Posting Komentar

Femce a.k.a Gytha

Femce a.k.a Gytha