Rabu, 15 Mei 2013

Monolog Cinta…



“Masih basaah ingatanku tentang masa aku meyakinkan bahwa kau adalah pilihan hatiku. Meskipun jauh sebelum itu diam-diam aku tlah menganggumimu
Entah aku tak tahu jelas apa alasan ketertarikanku tuk mengangagumimu. Tapi seperti yang pernah kamu katakan, ada chemistry berbeda yang kau temukan didiriku, maka tahukah diawal perkenalan kita aku bahkan merasakan debaran yang berbeda di hatiku. Mungkin kamu tak percaya, tapi rekaan dan adegan awal perkenalan dan semua tentang kita begitu kuat terekam dalam memoriku. Dan tak ada alasan lain, selain CINTA lah penyebabnya.
Dulu aku berfikir cinta itu sekedar penyenang hati, sebagai mode dan sekelumit keharusan. Namun semuanya menjadi sesuatu yang tiba-tiba diluar dugaanku. Cinta tak sesederhana anggapanku namun tak serumit perkiraanku. Ambigu!
Saat ini mungkin hubungan kita seperti sebuah kaca es yang kapan saja bisa retak, salah-salah dengan seketika mungkin akan berakhir, tapi itu takkan terjadi jika aku tak pernah melakukan kecerobohan. Ironisnya ada sejuta penyebab yang kapan saja bisa membuatku ceroboh!
Tapi luar biasanya CINTA tetaplah lebih kuat dibanding jutaan alasan itu.
Yaa mengapa mesti karena kecerobohanku?
Karena aku dan kamu hidup dalam hubungan yang hening. Sayangnya kekanakanku menuntut agar semuanya dalam keramaian. Hingga akhirnya berbagai cara kulakukan untuk membuatmu tak sekedar terdiam.
Berbagai cara? Ahh mungkin tak nampak olehmu, karena aku lebih menyampaikannya lewat isyarat. Isyarat yang akhirnya terkadang menjadi kecerobahan yang membuatmu kecewa.
Duhai kamu..
Sungguh aku tak menuntut kita seperti sepasang kekasih yang berada di luar sana. Karena aku sadar belum waktunya dan tak pernah ada aturan tentang hal itu. Tapi bukan berarti kamu mendiamiku seolah aku tak pernah ada. Membuatku selalu berfikir di luar yang seharusnya. Ya akhir2 ini akupun ikut terdiam, bukan karena ingin terdiam sepertimu, menyapamu setiap hari bisa saja kulakukan, tapi entahlah kadang setelah menyapamu aku akan merasakan sakit karena terluka, hanya karena tak ku temui dirimu yang dulu. Padahal menjadi dirimu adalah hakmu, maka apa yang bisa kuperbuat? Hanya terdiam dengan sekelumit luka yang akhirnya kutorehkan di mana saja.
Sebenarnya aku slalu ingin mengeluh tentangmu, tentang semua sikapmu padaku.
Tapi tak usah bertanya “ada apa dengan dirimu” karena kamu lebih tahu jawabannya dan juga tak perlu kebingungan atas tuntutanku atas sikapmu pun kamu tahu alasannya…
Aku tahu kamu lebih dewasa dariku, hingga maafkan jika kekanakkanakanku banyak meminta padamu. Termasuk inginkan dirimu yang dulu.
Mungkin kamu merasa tak ada yang berubah, kamu tetap yang dulu.. Kepada siaapaa? Yaa mungkin kepada siapa saja, tapi tidak denganku. Kamu tlah berbeda..
Maaf jika akhirnya ku sebut ini sebagai caramu menjauhi, meski aku selalu mencoba untuk menghibur diriku bahwa ini hanya karena tuntutan profesi. Tapi sekeras apapun aku menghibur diriku, tetap saja semuanya tertepis! Bagaimana tidak? Karena kenyataannya aku merasa sangat diasingkan! Sikapmu malah membuatku ‘resah’ hingga hari2ku dipenuhi dengan kegalauan! Mungkin aku terlihat bahagia, ceria dan kuat. Tapi sungguh aku susah, aku resah!
Sekali lagi aku tak menuntutmu agar kita menjadi sepasang kekasih seperti mereka diluar sana.
Karena pintaku sederhana saja, TUNAIKAN RINDUKU. Cintai aku dengan ketulusanmu, jika tidak, aku mohon pintalah agar aku pergi dari hidupmu. Tak perlu mengasihaniku dengan membalas cintaku. Karena aku akan baik-baik saja dengan caraku mencintaimu.
Mencintaimu tlah cukup menjadi penghapus kesedihanku, maka jangan khawatir dengan perasaanku.
Namun satu hal yang pasti, kamu hanya akan bermimpi jika aku yang akan pergi tanpa kamu pinta.. Karena bagaimana mungkin aku pergi, sedangkan cintaku tlah berhenti di ‘kamu’.
Yes, right ! I do love you.. :’)
Tak usah khawatir untuk pernyataan cintaku ini, karena sungguh ini bukan sebuah permintaan belas kasih untuk balasan cintaku.
Jika ketiadaanku adalah kebahagiaanmu, maka takkan kau temui kecuali diriku yang redha merelakanmu. Maka mintalah, dan akan aku penuhi. Bahagiamu bahagiaku. :’)

P.S :
Mungkin akan terbesit bahwa aku seolah tak percaya akan cinta yang dulu kamu utarakan padaku, ketika dulu kamu membalas cintaku.
Jika berbicara tentang kepercayaan. Sungguh aku percaya kalau kamu pun mencintaiku seperti aku mencintaimu. Karena mana mungkin cinta di hatiku tumbuh semakin besar jika tak ada siraman cinta darimu? Bukankah tak ada cinta yang bertepuk sebelah tangan?
Dan tak mungkin kamu membiarkanku seperti ini, jika bukan karena kamupun merasakan hal yang sama. Tak melepaskanku namun tak juga mengikatku.
Lalu ku sebut apa kesahku selama ini? Jika bukan karena keraguan!
Ya aku memang ragu! Ya aku ragu!
Tetapi bukan padamu, aku ragu pada diriku sendiri.. Pantaskah aku untukmu?
Aku tak cukup baik untukmu.. :’)

With love
“Aku”
*ungkapan hatiku, yang mungkin takkan pernah terbaca olehmu*

Minggu, 12 Agustus 2012

Dari Kota Apel Ke The Big Apple





Judul : 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel Ke The Big Apple
Harga : Rp. 47.000
Pengarang : Iwan Setyawan
Cover : Softcover

Jual Novel 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel Ke The Big Apple

Sinopsis :
Di
kaki Gunung Panderman, di rumah berukuran 6 x 7 meter, seorang anak
laki-laki bermimpi. Kelak, ia akan membangun kamar di rumah mungilnya.
Hidup bertujuh dengan segala sesuatu yang terbatas, membuat ia bahkan
tak memiliki kamar sendiri. Bapaknya, sopir angkot yang tak bisa
mengingat tanggal lahirnya. Sementara ibunya, tidak tamat Sekolah Dasar.
Ia tumbuh besar bersama empat saudara perempuan. Tak ada mainan yang
bisa diingatnya. Tak ada sepeda, tak ada boneka, hanya buku-buku
pelajaran yang menjadi "teman bermain"-nya. Di tengah kesulitan ekonomi,
bersama saudara-saudaranya, ia mencari tambahan uang dengan berjualan
di saat bulan puasa, mengecat boneka kayu di wirausaha kecil dekat
rumah, atau membantu tetangga berdagang di pasar. Pendidikanlah yang
kemudian membentangkan jalan keluar dari penderitaan. Dan kesempatan
memang hanya datang kepada siapa yang siap menerimanya. Dengan
kegigihan, anak Kota Apel dapat bekerja di The Big Apple, New York.
Sepuluh tahun mengembara di kota paling kosmopolit itu membuatnya
berhasil mengangkat harkat keluarga sampai meraih posisi tinggi di salah
satu perusahaan top dunia. Namun tak selamanya gemerlap lampu-lampu New
York dapat mengobati kenangan yang getir. Sebuah peristiwa mengejutkan
terjadi dan menghadirkan seseorang yang membawanya menengok kembali ke
masa lalu. Dan pada akhirnya, cinta keluargalah yang menyelamatkan
semuanya.

Senin, 28 November 2011

Resensi Novel

Negeri 5 Menara

Description: Resensi Novel Negeri 5 Menara

Judul Novel: Negeri 5 Menara
Pengarang : A. Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Agustus 2010
Kota Terbit : Jakarta
Jumlah Halaman : 424 halaman

Ikhtisar
Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi yang merupakan novel best seller ini, menceritakan kisah lima orang sahabat yang mondok di sebuah pesantren yaitu Pondok Madani (PM). Novel best seller ini merupakan novel pertama dari trilogi yang secara apik bercerita tentang dunia pendidikan khas pesantren, lengkap dengan segala pernak-pernik kehidupan para santrinya.
Alif Fikri adalah seorang yang sangat menginginkan sekolah di SMA Bukit tinggi Sumatera Barat dengan berbekal nilai ujian yang lumayan bagus. Namun mimpinya seakan sirna, musnah tak berbekas, karena Amaknya tidak mengijinkan. Beliau ingin Alif sekolah di Madrasah Aliyah yang berbasik agama. Dengan alasan Amak ingin Alif menjadi Ustad (Ulama). Dengan setengah hati, Alif menerima keinginan Amaknya untuk sekolah agama.
Awal mulanya dia sangat kaget dengan segala peraturan ketat dan kegiatan pondok. Untunglah, dia menemukan sahabat-sahabat dari berbagai daerah yang benar-benar menyenangkan. Niatan setengah hatinya kini telah menjadi bulat. Di bawah menara PM inilah mereka berlima justru menciptakan mimpi-mimpi lewat imajinasinya menatapi langit dan merangkai awan-awan menjadi negeri impian. Mereka yakin kelak impian itu akan terwujud. Karena mereka yakin akan mantra ampuh yang mereka dapatkan dari Kyai Rais (Guru Besar PM), yaitu man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.

Kelebihan
Novel ini mengubah pola pikir kita tentang kehidupan pondok yang hanya belajar agama saja. Karena dalam novel ini selain belajar ilmu agama, ternyata juga belajar ilmu umum seperti bahasa inggris, arab, kesenian dll. Pelajaran yang dapat dipetik adalah jangan pernah meremehkan sebuah impian setinggi apapun itu, karena allah Maha mendengar doa dari umat-Nya. Novel ini mengajak kita untuk terus berusaha dalam meraih impian dan cita-cita. Novel ini sangat mendidik, selain mendidik untuk belajar dan mengejar cita-cita, novel ini juga mendidik untuk tidak menentang perkataan orang tua dan berusaha untuk membahagiakan orang tua. Kemudian, di dalam novel terdapat catatan kaki yang dapat mempermudah pembaca untuk memahami isi novel ini. 

Kekurangan
Sayangnya, novel ini masih menggunakan kertas buram.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Tempat Teromantis di Dunia


1.      Molokai, Hawaii
















2.     Capri, Italy

 












3.     St. Lucia, Caribbean

 














4. Bocas del Toro, Panama


 














   
5. Fernando de Noronha, Brazil















6.     Santorini, Greece

 








 













7. Barbuda, Caribbean

 















8. Rangali Island, The Maldives

 














9. Racha Yai, Thailand

















10. Lizard Island, Australia

 













11. Isle of Mull, Scotland

 













12. Vieques, Puerto Rico

 





 







13. Folegandros, Greece

 



 









14. Vancouver Island, Canada

 












15. Pangkor Laut, Malaysia

 



 








16. Lana’i, Hawaii












17. Amelia Island, Florida

 











18. Harbour Island, Bahamas





 










19. Zanzibar, Tanzania

 


       









20. Formentera, Spain
















Dari daftar tersebut kok Indonesia ngak termasuk ya? padahal kan banyak pulau - pulau di Indonesia yang bagus bahkan lebih bagus lagi dari yang diatas itu. Menurut saya, disamping sumber ini bukan orang Indonesia, ada juga faktor dari masyarakatnya yang kurang mendukung. Bisa kita lihat pantai - pantai yang bagus jadi kurang bagus atau jelek hanya karena sampah berceceran dimana-mana, dan lain-lain yang pada intinya menyorot kepada image 'jelek'. Oleh karena itu, mari kita sebagai generasi penerus bangsa memperbaiki dan merawat alam kita. :) 

Rabu, 26 Oktober 2011

Cerpen


Dalam diamku tersimpan harapanku
Oleh Gita Sriulan Dilarasati

                Suatu ketika dimana saatnya pengumuman hasil UN SMP se-Indonesia. Dengan seragam putih biru aku dan teman-temanku berjalan menuju gerbang sekolah. Setelah beberapa saat kemudian “Tett…tett…tettt” bel pun berbunyi dan terdengar suara seorang guru yang meminta semua siswa kelas IX untuk segera berkumpul di lapangan upacara. Aku dan teman-temanku pun bergegas pergi menuju ke lapangan. Setelah sudah di kumpulkan semua siswa diminta memasuki ruang kelasnya masing-masing. Setiba-nya aku di depan kelas dan mulai menapakan kaki ke dalam ruang kelas, aku terus berjalan menuju ke kursi tempat dimana aku duduk. Sesaat kemudian tibalah seorang wanita yang menggunakan kerudung coklat dengan busana yang selaras dan menyampaikan tujuan dari kedatangan nya ke ruang kelas ku. ternyata dia hanya ingin menanyakan siapa yang menjadi wali murid dari masing-masing siswa untuk mengambil surat laporan hasil kelulusan UN.
“Ren, siapa yang menjadi wali mu nanti” Tanya Tessa
“Ibu yang menjadi wali ku nanti”
“Memangnya kemana ayah mu? Mengapa bukan dia yang menjadi wali mu ?” Tanya temanku lagi
“Ayah? Ehmm.. ayah ku sibuk, jadi dia tidak bisa menjadi wali ku” jawab ku sedikit cemas.
Akhirnya tiba saat nama ku di panggil dan ibu mulai membuka amplop yang berisikan pengumuman kelulusan. Saat yang menegangkan pun tiba. Semua teman-teman dan aku panik menunggu wali masing-masing membuka amplop dan ternyata aku lulus. Dengan sangat bahagia aku meloncat sambil berteriak, “Aku lulus!”
****
            Pe ndaftaran penerimaan siswa baru di sebuah SMA yang aku inginkan telah dimulai. Aku mendaftar bersama teman-temanku dengan di dampingi wali masing-masing. Teman-temanku didampingi oleh ayah dan ibu mereka dan aku hanya di damping oleh ibu.
“Ren, kemana ayahmu?” kembali Tessa bertanya.
Langsung saja aku menatap muka ibu dan dia tersenyum sambil berkata
“ceritakan saja nak!”
“Baiklah, sebenarnya aku hanya hidup dengan Ibu dan kakakku. Ayahku pergi meninggalkan ibu dan kakak saat kakak masih kanak-kanak. Ayah pergi dengan wanita lain, dia tinggal dengan isteri barunya dengan keluarga yang sangat bahagia. Tapi ternyata isteri barunya juga di sakiti oleh ayah. Ayah menikah lagi dengan wanita-wanita yang lain. Suatu saat ketika ayah bangkrut, ayah kembali kepada ibu dan meminta ibu untuk menerimanya kembali, dan ibu menerimanya. Setelah beberapa bulan kemudian, ibu mengandungku, dengan kasih sayang dan perhatian dari ayah ibu merasa bahwa ayah telah berubah. Saat aku dilahirkan, saat aku masih balita ayah kembali meninggalkan aku, kakak, dan ibu.  Aku kasihan sekali dengan ibu yang mulai percaya lagi kepada ayah, tapi ayah menghianati kepercayaan dari ibu. Hingga saat ini aku tidak tau dimana keberadaan ayah dan berapa banyakkah isteri dan anaknya. Oleh karena itulah ayah tak pernah menjadi wali ku.”
            Hari demi hari pun berlalu namun ayah tak kunjung datang. Aku dan ibu sangat merindukan ayah. Aku sangat ingin merasakan dekapan hangat, nasehat, dan perhatian dari seorang ayah, ayah kandung ku. suatu saat ketika aku libur sekolah aku mendengar kabar bahwa ayahku menikah dengan wanita asal Bandung namun sekarang ayah dan keluarganya tinggal di Palembang dan aku meminta izin kepada ibu untuk menemui ayah di rumahnya karena aku sangat ingin bertemu dengan ayah. Namun ibu menolak, ibu tidak mengizinkanku untuk menemui ayah. Aku terus memohon dengan ibu agar ibu memberi izinnya dan mau mengantar ku ke rumah ayah dan akhirnya ibu mengizinkanku. Tibalah aku dan ibu pada suatu rumah yang sangat megah, indah, dan mewah. Perlahan aku melangkahkan kaki menuju ke gerbang rumah itu dan bergegas masuk. Setibanya aku di depan pintu rumah ayah, aku langsung memanggilnya.
“Ayah !” ucapku perlahan, namun tak ada jawaban dari penghuni rumah.
            Aku terus mencoba memanggil ayah
“Ayah! Ini aku rena anak mu yah! Aku sangat merindukanmu! Keluar yah, aku mohon!” tetap tak ada respon.
            Berkali-kali ku coba untuk memanggilnya dan mencoba melirik kedalam rumah melalui sela-sela jendela yang ditutupi tabir yang cantik. Hanya terlihat orang-orang yang sedang asik di depan televise, namun aku tak melihat ayah. Akhirnya aku pulang dengan berderaian air mata yang membasahi pipi ku dan bergegas menuju ibu yang sudah menungguku di depan gerbang.
“Ibu…! Ayah tidak menjawab seruan ku.”
“memang begitu ayah mu nak, namun jika kamu tetap ingin ayah mu kembali, ibu mau kok  nak meminta ayah mu untuk kembali agar bisa berkumpul bersama kita dirumah.”
“Tidak bu , aku tidak mau! tidak apa kok bu kalau memang aku tidak memiliki ayah yang penting aku masih punya ibu yang sayang dengan aku.”
            Sesungguhnya aku masih memiliki keinginan untuk bertemu dengan ayah, tapi aku juga kasihan dengan ibu. Akhirnya aku menerima kehidupanku tanpa seorang ayah.
****

*)Penulis adalah siswa kelas X.4 SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III

Femce a.k.a Gytha

Femce a.k.a Gytha